Harga Saham Hari Ini & IHSG Terkoreksi: Review Mingguan 2-6 Feb 2026

Daftar Isi

Oleh: Mahar Santoso Depok, 7 Februari 2026


Executive Summary

The Indonesian stock market (IDX) faced significant pressure in the first week of February 2026. The IHSG fell by 4.73%, closing at 7,935.260. Trading activity plummeted with a 43.45% drop in transaction value compared to the previous week. While foreign investors recorded a net sell of IDR 1.13 trillion, domestic participants now dominate 68% of the market composition. Top laggards like FILM and BREN significantly dragged the index, while BUMI led in trading volume. Current market conditions suggest a "Cash is King" approach for retail investors.

Weekly Report IHSG 2-6 Februari 2026

Halo Sobat Cuan! Selamat akhir pekan. Sambil meluruskan kaki sehabis lari pagi tadi—kebetulan rute hari ini agak menanjak, mirip kondisi porto kita yang lagi butuh napas panjang—saya menyempatkan diri membuka data stock market news today. Sebagai orang yang sudah "berenang" di Bursa Efek Indonesia sejak 2014, saya melihat minggu pertama Februari 2026 ini benar-benar memberikan ujian mental yang cukup serius bagi kita semua.

Pekerjaan saya sebagai abdi negara mungkin menuntut keteraturan, tapi hobi riset data saham saya justru mengajarkan bahwa market seringkali tidak teratur. Minggu ini, ihsg kita tampak kehabisan bensin. Mari kita bedah pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi di idx selama periode 2 sampai 6 Februari 2026 ini.

Overview Pasar: Mengapa IHSG Terjun Bebas di Bawah 8.000?

Jika kita bandingkan dengan penutupan minggu lalu (26-30 Januari 2026), kondisi pasar modal kita mengalami kontraksi yang cukup dalam. Pada akhir Januari, ihsg masih bertengger dengan gagah di level 8.329,606. Namun, hanya dalam waktu lima hari perdagangan, indeks kita terkoreksi tajam sebesar -4,73% dan ditutup di level 7.935,260 pada Jumat, 6 Februari 2026.

Penurunan ini tidak hanya terlihat pada angka indeks, tapi juga pada gairah pasar secara keseluruhan. Mari kita lihat perbandingannya:

  • Rata-rata Nilai Transaksi Harian: Anjlok dari Rp43,76 triliun menjadi hanya Rp24,74 triliun (turun 43,45%).
  • Volume Perdagangan: Turun 31,75% dari 63,3 miliar saham menjadi 43,2 miliar saham per hari.
  • Market Cap: Menguap sekitar Rp706 triliun, dari Rp15.046 triliun menjadi Rp14.341 triliun.

Kelesuan ini juga tercermin dalam rekap pasar harian yang sempat kita bahas sebelumnya. Tekanan jual yang masif membuat harga saham hari ini di berbagai sektor terlihat "merah membara".

Broker Milenial vs Broker Institusi: Siapa yang Paling Agresif?

Dalam memantau pergerakan harga saham, sangat penting untuk melihat siapa yang menjadi motor penggerak. Berdasarkan data Top Exchange Members Weekly, kita bisa melihat dominasi beberapa pialang besar. Jika Anda penasaran dengan daftar lengkapnya, silakan cek 50 kode broker pialang saham 2026.

Top Broker by Volume

Berdasarkan volume transaksi, Stockbit Sekuritas Digital (XL) kembali memimpin pasar dengan total 69,56 miliar saham atau menguasai 16,10% pangsa pasar. Hal ini menunjukkan aktivitas retail yang sangat tinggi di platform tersebut. Disusul kemudian oleh Mandiri Sekuritas (CC) sebesar 9,43% dan Semesta Indovest Sekuritas (MG) sebesar 8,60%.

Top Broker by Value

Namun, jika kita melihat dari sisi nilai transaksi (value), urutannya sedikit berbeda. Mandiri Sekuritas (CC) memuncaki daftar dengan total nilai Rp27,19 triliun (10,99%). Stockbit (XL) membuntuti di posisi kedua dengan Rp26,41 triliun (10,68%), diikuti oleh UBS Sekuritas Indonesia (AK) dengan Rp22,87 triliun (9,25%).

Aktivitas broker AK dan ZP (Maybank) yang masuk dalam jajaran 5 besar nilai transaksi menunjukkan bahwa institusi masih mencoba melakukan rebalancing portofolio di tengah volatilitas tinggi.

Analisis Saham: BUMI Juara Volume, BREN & FILM Jadi Beban

Minggu ini benar-benar menjadi panggung bagi saham bumi. Dari sisi volume, BUMI mencatatkan transaksi sebesar 47,13 miliar saham atau setara 21,82% dari total volume pasar. Nilai transaksinya pun mencapai Rp11,16 triliun, yang menjadikannya saham dengan nilai transaksi tertinggi di BEI minggu ini. Sayangnya, secara performa harga, BUMI menyumbang dampak negatif terhadap indeks sebesar -1,48 poin di jajaran LQ45.

Saham BBCA dan BBRI: Sang Penjaga Gawang

Di tengah badai, saham bbca tetap menjadi favorit investor besar dengan nilai transaksi Rp8,86 triliun. BBCA bahkan menjadi Top Leader bagi IHSG dengan kontribusi kenaikan 26,06 poin di saat mayoritas saham lain tumbang. Sementara itu, saham bbri mencatatkan nilai transaksi Rp5,56 triliun. Meskipun sektor finansial turun 1,44%, BBCA dan BBRI tetap menjadi instrumen paling likuid yang menjaga marwah bursa kita.

Top Laggards: Apa yang Terjadi dengan BREN dan FILM?

Nah, ini dia yang perlu kita waspadai. Saham bren (Barito Renewables Energy) menjadi salah satu pemberat utama IHSG dengan kontribusi negatif sebesar -18,51 poin. Harganya terkoreksi sekitar 5,87% dalam seminggu terakhir.

Namun, yang paling dramatis adalah saham FILM (MD Pictures) dan MORA. FILM memimpin Top Losers dengan penurunan harga sebesar -55,34%, yang berdampak pada pengurangan poin IHSG sebesar -63,97. MORA pun tak kalah parah dengan penurunan -52,46%. Penurunan tajam pada saham-saham dengan market cap menengah-besar inilah yang membuat IHSG sulit untuk rebound.

Sektor-Sektor yang "Berdarah"

Hampir tidak ada tempat bersembunyi minggu ini. Idx mencatat hampir seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah. Berikut adalah beberapa sektor yang kinerjanya paling memprihatinkan:

  • Sektor Konsumer Siklikal (Consumer Cyclicals): Anjlok paling dalam sebesar -14,53%.
  • Sektor Infrastruktur: Turun -11,27%, terutama dipicu oleh saham-saham energi terbarukan dan menara telekomunikasi.
  • Sektor Energi: Terkoreksi -8,84%, meskipun harga komoditas global relatif stabil.
  • Acceleration Board: Indeks papan akselerasi bahkan terjun bebas -20,85%.

Satu-satunya cahaya di ujung terowongan adalah IDX High Dividend 20 yang masih mampu tumbuh tipis 0,99%, menunjukkan investor mulai beralih ke saham-saham defensive yang rutin membagi dividen.

Foreign Flow vs Domestik: Pergeseran Dominasi

Data menarik muncul pada komposisi investor. Jika minggu lalu investor asing menguasai 38% transaksi, minggu ini porsinya mengecil menjadi 32%. Sebaliknya, investor domestik kini mendominasi 68% pasar.

Secara kumulatif, investor asing mencatatkan Net Sell sebesar Rp1,13 triliun selama 2-6 Februari 2026. Angka ini memang jauh lebih kecil dibandingkan capital outflow minggu sebelumnya yang mencapai Rp13,92 triliun, namun tetap saja menunjukkan bahwa dana asing belum kembali masuk secara signifikan ke pasar modal kita.

Transaksi antar investor domestik (D-D) menjadi yang paling besar dengan nilai Rp14,18 triliun pada awal minggu, namun terus menurun hingga Rp8,09 triliun di akhir minggu. Ini menandakan bahwa retail domestik pun mulai melakukan aksi "wait and see".

Valuasi Pasar: IHSG Kini Lebih Murah?

Secara fundamental, penurunan harga saham membuat valuasi pasar kita terlihat lebih menarik di atas kertas. Market PER (Price to Earnings Ratio) turun dari 15,04 ke level 14,92. Sementara Market PBV (Price to Book Value) berada di level 2,24.

Meskipun secara angka terlihat lebih murah, kita tidak boleh melupakan risiko global. Jika kita bandingkan dengan bursa tetangga, IHSG adalah yang terburuk di ASEAN minggu ini dengan penurunan -4,73%. Sebagai perbandingan, Thailand (SET Index) justru naik +2,14% dan Filipina (PSEI) naik +0,98%. Ketertinggalan ini menunjukkan adanya isu spesifik di pasar domestik kita yang perlu diwaspadai.

Strategi Investasi: Cash is King!

Sebagai pns yang sudah dari 2014 terjun ke dunia saham yang juga seorang pelari, saya sering bilang: "Jangan memaksakan sprint kalau napas sudah sesak." Begitu juga di saham. Dengan kondisi market yang sedang sideways cenderung down seperti sekarang, cash is a king.

Investor retail, jika Anda merasa tidak memiliki cukup amunisi untuk menjadi market mover atau tidak kuat menahan volatilitas, lebih baik tahan uang Anda. Masuk ke saham saat tren sedang turun tajam (falling knife) tanpa strategi money management yang ketat adalah resep jitu untuk "nyangkut" berjamaah.

Rekomendasi Investasi Saham 9-13 Februari 2026

Berdasarkan data minggu ini, berikut adalah beberapa poin untuk pertimbangan strategi Anda minggu depan:

  1. Pantau Level Psikologis 7.900: Jika IHSG gagal bertahan di atas 7.900, ada potensi pelemahan lebih lanjut menuju 7.700.
  2. Fokus pada Blue Chip Defensive: Saham seperti BBCA dan BBRI tetap menjadi pilihan utama saat market gojang-ganjing karena likuiditasnya yang tinggi.
  3. Hindari Saham Spekulatif: Untuk sementara, hindari saham di papan akselerasi atau saham dengan penurunan ekstrem seperti FILM dan MORA sampai ada tanda-tanda pembalikan arah (reversal) yang valid.
  4. Dividen Hunter: Cermati saham-saham di indeks High Dividend 20 karena sektor ini terbukti paling tangguh minggu ini.
  5. Amati Pergerakan Asing: Pantau apakah net sell asing akan mereda atau justru semakin membesar di minggu kedua Februari.

Kesimpulan

Minggu pertama Februari 2026 menjadi periode yang cukup berat bagi pasar modal Indonesia. Penurunan ihsg sebesar 4,73% disertai anjloknya nilai transaksi harian menandakan adanya ketidakpastian yang tinggi. Dominasi domestik yang mencapai 68% menunjukkan bahwa retail kini memegang peranan kunci, namun tanpa dukungan dana asing, kenaikan indeks akan terasa berat. Tetap disiplin dengan rencana investasi Anda, dan ingat, kesehatan mental jauh lebih penting daripada memantau running trade seharian.

Tertarik dengan data lebih mendalam? Anda1 bisa merujuk langsung ke Statistik Resmi IDX untuk verifikasi data lebih lanjut.

Terima kasih telah menjadi bagian dari ekosistem riset maharsantoso.id. Kontribusi Anda sangat berarti bagi independensi analisa kami.

Disclaimer: Investasi saham memiliki risiko kerugian. Artikel ini merupakan analisis data statistik dan bukan merupakan perintah jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan Anda melakukan analisis mandiri sebelum bertransaksi.

Mahar Santoso
Mahar Santoso Your Strategic Partner

Seorang profesional Think Tank di Kementerian Kesehatan RI dan lulusan Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Aktif sebagai investor pasar modal sejak 2014 dan penggiat lari jarak jauh. Berfokus pada publikasi berbasis data riset yang objektif.