IHSG Anjlok 2%: Saham BBCA & BREN Melemah, Harga Saham Hari Ini Merah!
Penulis: Mahar Santoso Depok, 6 Februari 2026
Executive Summary
The Indonesia Composite Index (IHSG) experienced a significant correction on Friday, February 6, 2026, closing down by 2.08% at 7,935.260. Despite the sharp decline in the main index, foreign investors recorded a net buy of IDR 944.31 billion in the regular market. Heavyweight stocks such as BBCA, BBRI, and ASII were the primary laggards, significantly pulling down the index. Trading activity remained robust with a total value of IDR 19.65 trillion, dominated by Mandiri Sekuritas and Stockbit Sekuritas. Sectorally, the Transportation & Logistics sector was the sole gainer, while Consumer Cyclicals and Industrials faced the heaviest selling pressure.
Overview Stock Market News Indonesia: IHSG Terperosok di Akhir Pekan
Pasar modal Indonesia menutup pekan pertama Februari 2026 dengan rapor merah yang cukup mencolok. Berdasarkan data IDX Daily Statistics, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam sebesar -2.08% atau berkurang 168,619 poin ke level 7,935.260. Padahal, pada hari sebelumnya, indeks masih bertengger dengan nyaman di level 8,103.879.
Pergerakan harga saham hari ini sejak bel pembukaan sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan jual. IHSG sempat mencapai titik tertinggi hari ini di level 8,025.140 pada pukul 09:27 WIB. Namun, alih-alih menguat, tekanan jual justru semakin masif hingga membawa indeks ke titik terendahnya di 7,861.685 pada pukul 11:26 WIB. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi para investor, mengingat level 8.000 baru saja ditembus beberapa waktu lalu.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume saham yang berpindah tangan mencapai 33,134 juta lembar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp19,654 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,207 ribu kali. Menariknya, di tengah penurunan indeks yang cukup dalam, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (JISDOR) berada di level Rp16.887. Tekanan pada kurs ini disinyalir menjadi salah satu pemicu sikap konservatif pelaku pasar di saham berkapitalisasi besar.
Bagi saya yang sudah mengamati pasar sejak 2014, fluktuasi seperti ini adalah bagian dari "seni" berinvestasi. Jika dibandingkan dengan Market Recap 5 Februari 2026 kemarin, terlihat jelas adanya perubahan sentimen yang cukup drastis dari optimisme menjadi aksi ambil untung atau profit taking massal.
Analisis Pergerakan Saham Blue Chip: BREN, BBCA, dan BUMI
Berbicara tentang stock market news today, tidak lengkap rasanya tanpa membedah pergerakan saham-saham "raksasa" yang memiliki pengaruh besar terhadap bobot indeks. Hari ini, saham BBCA dan saham BREN menjadi sorotan utama karena kontribusinya terhadap pelemahan IHSG.
Saham BBCA (PT Bank Central Asia Tbk)
Sebagai saham dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di bursa, yakni senilai Rp937 triliun, pergerakan BBCA selalu menjadi barometer. Sayangnya, hari ini saham BBCA harus terkoreksi sebesar -1.60%. Penurunan ini menjadikannya top laggard nomor satu yang menyumbang pengurangan -11.84 poin terhadap IHSG. Meskipun begitu, BBCA tetap menjadi primadona transaksi dengan nilai mencapai Rp1,778 triliun.
Saham BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk)
Sang penguasa market cap saat ini, saham BREN, dengan nilai kapitalisasi Rp1.074 triliun juga tidak mampu menahan badai koreksi. BREN ditutup melemah -2.73% hari ini. Sebagai market leader, pelemahan BREN memberikan efek domino pada sentimen investor ritel, mengingat bobotnya yang mencapai 7.49% dari total kapitalisasi pasar IDX.
Saham BUMI (PT Bumi Resources Tbk)
Di sisi lain, saham BUMI kembali menunjukkan taringnya sebagai raja volume. Sebanyak 6,516 juta lembar saham BUMI diperdagangkan hari ini, yang mencakup 19.67% dari total volume transaksi di bursa. Secara nilai, BUMI berada di posisi kedua setelah BBCA dengan transaksi sebesar Rp1,483 triliun. Tingginya frekuensi transaksi BUMI (118.276 kali) menunjukkan betapa aktifnya spekulasi dan perdagangan harian di saham ini.
Top Brokers: Siapa yang Menguasai Panggung Hari Ini?
Memahami siapa di balik transaksi besar sangatlah penting untuk membaca arah pasar. Dalam dunia persahaman, kita sering mengenal istilah kode broker. Bagi Anda yang ingin mendalami lebih lanjut, silakan cek daftar lengkap 50 Kode Broker Pialang Saham 2026 untuk memudahkan analisis bandarmology Anda.
Berikut adalah ringkasan broker paling aktif pada perdagangan 6 Februari 2026:
Top Broker by Value (Nilai Transaksi)
- Mandiri Sekuritas (CC): Memimpin dengan nilai transaksi sebesar Rp4,107 triliun (10.45%).
- Stockbit Sekuritas Digital (XL): Berada di posisi kedua dengan Rp3,689 triliun (9.38%).
- UBS Sekuritas Indonesia (AK): Mencatatkan nilai Rp3,625 triliun (9.22%).
Top Broker by Volume (Volume Transaksi)
- Stockbit Sekuritas Digital (XL): Mendominasi volume dengan 10,502 juta saham (15.85%).
- Mandiri Sekuritas (CC): Mencatatkan 6,578 juta saham (9.93%).
- Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP): Menyusul dengan 4,892 juta saham (7.38%).
Dominasi broker seperti XL (Stockbit) dan YP (Mirae) menunjukkan partisipasi investor ritel yang masih sangat tinggi, sementara broker seperti CC (Mandiri) dan AK (UBS) mencerminkan aktivitas investor institusi, baik domestik maupun asing.
Daftar Top Leaders dan Top Laggards
Meskipun indeks merah membara, selalu ada bunga di tengah padang gurun. Beberapa saham berhasil melawan arus (rebellion stocks) dan memberikan kontribusi positif terhadap indeks.
Top Leaders (Penyokong Indeks)
Saham-saham ini menjadi pahlawan yang menahan IHSG agar tidak merosot lebih dalam lagi:
- TLKM: Naik +2.74% dengan kontribusi +9.47 poin ke IHSG.
- SMMA: Melonjak +6.72% memberikan sumbangan +6.12 poin.
- AMRT: Menguat +2.26% dengan dampak +1.58 poin.
- UNVR: Naik +4.07% menyumbang +1.08 poin.
Top Laggards (Pemberat Indeks)
Sebaliknya, saham-saham heavyweight ini justru menjadi beban bagi indeks hari ini:
- BBCA: Turun -1.60% (Dampak: -11.84 poin).
- BBRI: Turun -1.82% (Dampak: -11.00 poin).
- ASII: Turun -3.60% (Dampak: -10.24 poin).
- DSSA: Turun -2.98% (Dampak: -9.29 poin).
- FILM: Anjlok -14.80% (Dampak: -8.97 poin).
Sektor yang Berperan: Hanya Transportasi yang Selamat
Pelemahan hari ini bersifat menyeluruh atau broad-based selling. Dari 11 sektor yang ada di bursa, hampir semuanya berakhir di zona negatif. Sektor Konsumer Siklikal (Consumer Cyclicals) menjadi yang paling babak belur dengan penurunan mencapai -5.11%. Penurunan tajam ini kemungkinan dipicu oleh kekhawatiran daya beli di tengah pelemahan nilai tukar.
Sektor lain yang juga terkoreksi dalam adalah Industrials yang turun -4.51% dan Energy yang merosot -3.25%. Saham-saham berbasis komoditas nampaknya sedang mengalami rebalancing portofolio oleh para manajer investasi global.
Satu-satunya sektor yang berhasil mencatatkan pertumbuhan adalah Transportation & Logistic yang naik tipis +0.53%. Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif pada saham-saham logistik yang mulai menunjukkan efisiensi kinerja di awal tahun 2026.
Foreign Flow: Asing Malah Borong Saat Market Crash?
Ada anomali yang cukup menarik jika kita melihat data aliran dana investor asing (foreign flow). Biasanya, saat indeks turun lebih dari 2%, kita akan melihat capital outflow yang masif. Namun, data hari ini menunjukkan hal yang berbeda.
Investor asing mencatatkan Net Buy sebesar Rp944.31 miliar di seluruh pasar. Secara rinci, investor asing melakukan pembelian senilai Rp8,339 triliun dan penjualan sebesar Rp7,394 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa investor institusi luar negeri justru memanfaatkan momen koreksi ini untuk melakukan akumulasi pada saham-saham yang harganya sudah dianggap murah atau terdiskon.
Meskipun demikian, secara Year-to-Date (YTD), posisi investor asing masih mencatatkan Net Sell sebesar Rp11,015.37 triliun. Ini mengindikasikan bahwa aksi beli hari ini mungkin hanya bersifat teknikal atau respon terhadap fundamental jangka panjang yang masih kuat di tengah fluktuasi jangka pendek.
Komposisi investor hari ini didominasi oleh investor domestik sebesar 60%, sementara porsi investor asing berada di angka 40%. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa pasar modal kita sudah semakin mandiri, meskipun faktor eksternal tetap memberikan pengaruh psikologis yang kuat.
Kesimpulan dan Insight Praktis
Penurunan IHSG sebesar 2.08% hari ini ke level 7,935.260 merupakan koreksi yang cukup sehat namun tetap perlu diwaspadai. Pelemahan saham BBCA, saham BREN, dan perbankan lainnya menjadi penekan utama indeks. Namun, adanya net buy asing memberikan sedikit titik terang bahwa ada kepercayaan dari pihak luar terhadap stabilitas ekonomi kita dalam jangka panjang.
Sebagai investor, apa yang harus dilakukan?
- Jangan Panic Selling: Jika profil risiko Anda adalah jangka panjang, koreksi seperti ini adalah kesempatan untuk dollar cost averaging.
- Perhatikan Support Level: Level 7.861 menjadi area support krusial yang sempat disentuh hari ini. Jika level ini tertembus minggu depan, IHSG mungkin akan mencari landasan baru.
- Diversifikasi Sektor: Saat sektor siklikal dan energi tumbang, perhatikan sektor yang defensif atau yang menunjukkan anomali positif seperti transportasi.
Dunia saham memang dinamis, mirip seperti hobi lari saya. Terkadang kita harus melambat atau bahkan beristirahat sejenak agar bisa berlari lebih jauh (marathon, not a sprint). Tetap pantau data secara objektif dan jangan biarkan emosi menguasai keputusan finansial Anda.
Untuk referensi data lebih lengkap dan statistik harian resmi, Anda selalu bisa mengunjungi situs resmi Bursa Efek Indonesia.
Apakah Anda ingin saya menganalisis prospek saham TLKM yang menjadi top leader hari ini atau mungkin bedah fundamental saham BREN untuk pekan depan? Beri tahu saya di kolom komentar atau melalui formulir kontak!
Disclaimer: Artikel ini merupakan rangkuman data pasar dan bukan merupakan perintah jual atau beli. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor dengan segala risikonya. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari keputusan investasi berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pastikan untuk selalu melakukan riset mandiri (Do Your Own Research).
