Lari di Penghujung Tahun 2025: Menutup Tahun dengan Langkah Sehat dan Penuh Syukur

Daftar Isi

Ada banyak cara menutup tahun. Ada yang dengan pesta, ada yang dengan resolusi panjang, ada yang dengan liburan. Saya memilih cara yang sederhana: lari.

Bukan karena lari adalah hal terpenting dalam hidup saya, melainkan karena lari adalah cara paling jujur yang saya miliki untuk kembali hadir pada diri sendiri. Ketika saya lari, saya tidak bisa berbohong pada tubuh. Saya tidak bisa menyembunyikan lelah. Saya tidak bisa berpura-pura kuat. Dan justru di situlah saya belajar rendah hati.



Di penghujung 2025, saya menutup tahun dengan lari sejauh 20,25 kilometer. Tidak untuk mengejar rekor. Tidak untuk mempersiapkan event lari tertentu. Tidak untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun. Saya lari hanya untuk mengucap terima kasih kepada tubuh yang masih mau bergerak, dan kepada hidup yang masih memberi ruang untuk bernapas.

Lari sebagai Cara Menjadi Hadir

Selama setahun ini saya belajar bahwa lari bukan sekadar aktivitas fisik. Lari adalah latihan kehadiran. Ketika kita lari, kita diajak mendengar napas, mendengar langkah, mendengar detak jantung, dan diam-diam juga mendengar isi kepala.

Kadang kita lari untuk sehat. Kadang kita lari untuk menenangkan pikiran. Kadang kita lari hanya supaya tidak diam terlalu lama.

Apa pun alasannya, lari selalu mengajarkan satu hal yang sama: kita tidak bisa memaksa tubuh tanpa konsekuensi, dan kita tidak bisa mengabaikan diri tanpa kehilangan sesuatu.

Hari ini saya lari tanpa ambisi besar. Dan justru di situlah saya merasa paling bebas.

Membaca Lari per 3 Kilometer

Saya mencoba membaca kembali lari hari ini dalam potongan kecil, bukan untuk menilai, tapi untuk belajar.




0–3 km: Memulai dengan Rendah Hati

Di awal lari, napas masih belum rapi, langkah masih mencari irama. Saya biarkan. Saya tidak memaksa cepat. Saya belajar bahwa setiap awal memang perlu waktu untuk hangat.

3–6 km: Menemukan Ritme

Tubuh mulai stabil, napas mulai tenang, langkah terasa lebih ringan. Lari mulai terasa seperti aliran, bukan tugas.

6–9 km: Hadir Tanpa Banyak Pikiran

Saya tidak mengejar pace. Tidak mengejar target. Saya hanya mengikuti ritme yang terasa wajar.

9–12 km: Sedikit Berat Itu Wajar

Ada lelah kecil. Tapi tidak ada keluhan. Saya belajar menerima bahwa lelah bukan musuh.

12–15 km: Mendengar Tubuh

Saya melambat sedikit. Bukan karena lemah, tapi karena ingin menjaga.

15–18 km: Ritme Kembali

Menariknya, setelah melambat, tubuh menyesuaikan diri. Lari kembali terasa stabil.

18–Finish: Menutup dengan Tenang

Saya menutup lari tanpa sprint, tanpa heroisme, tanpa drama. Hanya langkah yang konsisten sampai selesai.

Dan itu terasa cukup.

Membaca Setahun Lewat Matriks yang Diam

Setelah lari, saya membuka matriks tahunan latihan. Lima zona intensitas, grafik bulanan, total jarak, dan VO₂max.




Saya melihat bahwa sebagian besar waktu saya berada di zona nyaman hingga fokus, dan sangat sedikit di zona ekstrem. Saya melihat bahwa jarak setahun ini tidak besar, tapi cukup konsisten. Saya melihat lonjakan di November dan Dsember bukan karena ambisi, tapi karena hidup memberi ruang.

Saya melihat angka VO₂max yang baik, dan “fitness age” yang muda yaitu 23 tahun di usia saya yang sudah 35 tahun,  tapi saya memilih tidak menjadikannya identitas. Saya memilih menjadikannya pengingat: bahwa menjaga diri itu mungkin, dan bahwa proses kecil yang konsisten itu berarti.

Matriks ini tidak menjelaskan siapa saya. Tapi ia mengingatkan bahwa saya hadir.

Lari dan Kesehatan yang Lebih Utuh

Lari membantu menjaga jantung dan paru-paru, itu benar. Tapi bagi saya lari juga menjaga cara saya memandang hidup.

Lari mengajarkan saya untuk:

  • sabar pada proses,
  • ramah pada diri sendiri,
  • rendah hati pada hasil,
  • dan bersyukur pada kemampuan tubuh.
  • Dan mungkin itulah bentuk kesehatan yang paling lengkap.

Jika ada satu harapan yang ingin saya bawa ke 2026, itu sederhana: semoga saya masih bisa lari.

Bukan cepat. Bukan jauh. Bukan hebat. Hanya bisa.

Karena selama kita masih bisa lari, kita masih bisa bergerak. Selama kita masih bisa bergerak, kita masih bisa belajar. Dan selama kita masih bisa belajar, kita masih punya harapan.

Terima kasih 2025, untuk semua langkah, semua napas, semua lari.

Sampai jumpa di kilometer berikutnya. 🙏

Mahar Santoso
Mahar Santoso Your Strategic Partner

Seorang profesional Think Tank di Kementerian Kesehatan RI dan lulusan Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Aktif sebagai investor pasar modal sejak 2014 dan penggiat lari jarak jauh. Berfokus pada publikasi berbasis data riset yang objektif.
Kontribusi Anda, memaksimalkan analisa independen kami.
Review Kebutuhan Rumah Tangga: