Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Diskusi Menteri Kesehatan dengan Tenaga Kesehatan Tentang Transformasi Kesehatan

Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin mempunyai tiga amanat dari Bapak Presiden yaitu Vaksinasi, Penanganan Pandemi, dan Transformasi Sistem Kesehatan. Beliau pada kesempatan kali ini 8 Juni 2022 mengundang seluruh tenaga kesehatan baik dokter maupun non dokter agar semua tenaga kesehatan mengetahui arah kebijakan Kementerian Kesehatan. Menteri Kesehatan sangat welcome kepada seluruh saran dan debat dari tenaga kesehatan untuk memberikan pandangan kepada pembangunan kesehatan di Indonesia. Tujuan dari diskusi ini agar seluruh masyarakat Indonesia mendapat pelayanan kesehatan yang terbaik. 


Alasan Transformasi Kesehatan

Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2030, akan ada 68% populasi berusia produktif pada tahun 2030 yang berarti GDP (Gross Domestic Product) akan meningkat. Cara menghitung GDP yang paling gampang adalah seluruh gaji rakyat Indonesia dibagi seluruh penduduk. Kesempatan negara Indonesia untuk menggenjot GDP harus dipersiapkan mulai saat ini agar semua populasi usia produktif pada tahun 2030 dapat menghasilkan income yang tinggi. Visi besar dari Presiden Jokowi adalah Pembangunan SDM yang merupakan prioritas utama untuk pertumbuhan. Karena setelah tahun 2030 sudah akan mulai turun populasi usia produktif. Akan banyak populasi yang bergantung pada usia produktif. Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menggenjot persiapan infrastruktur ekonomi termasuk infrstuktur SDM Tenaga Kesehatan.  

Ada dua sektor yang sangat menentukan produktifitas suatu bangsa yang dapat meningkatkan GDP yaitu sektor Pendidikan dan sektor Kesehatan. Sektor Pendidikan mengajarkan bangsa untuk berpendidikan tinggi yang nantinya dapat mendapatkan gaji atau income yang tinggi. Sektor Kesehatan merupakan landasan utama untuk masyarakat hidup sehat. Saat sedang produktif-produktifnya masyarakat, tetapi mengalami gangguan kesehatan misalkan stroke, atau harus hemodialisa, maka produktifitas masyarakat terganggu dan akan mengalami penurunan hingga tidak dapatnya income. Jadi GDP suatu negara sangat ditentukan oleh sektor pendidikan dan kesehatan. 

Biaya kesehatan secara global terus meningkat lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Indonesia mengalami fase dimana peningkatan belanja kesehatan (health cost percapita) telah melampaui pertumbuhan GDP. Hal ini akan berakibat tidak sustainable nya APBN, yang nantinya akan ada penyesuaian untuk anggaran asuransi, hingga anggaran belanja negara. 


Dapat kita lihat dalam grafik diatas, peningkatan usia harapan hidup masyarakat (UHH) tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah belanja kesehatan. Contohnya adalah masyarakat Amerika Serikat mempunyai pengeluaran $ 10.624/kapita dengan UHH 79 tahun. Berbeda dengan Jepang, mereka mempunyai pengeluaran $ 5.504/kapita dengan UHH 84 tahun. Sedangkan Indonesia mempunyai pengeluaran biaya kesehatan $ 375/kapita dengan UHH 72 tahun. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah tingginya pengeluaran biaya kesehatan perkapita itu menandakan tidak efisiensinya pembiayaan fasilitas kesehatan / pelayanan kesehatan atau ada faktor lain yang bisa meningkatkan UHH?

Peningkatan UHH merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah dan masyarakat Indonesia. Pemerintah menentukan kebijakan kesehatan yang berfokus pada kesehatan masyarakat, menyediakan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang aksesibel bagi masyarakat, dan masyarakat berkewajiban untuk menjaga kesehatan diri dan keluarganya dan mencegah terjadinya penyakit. Tenaga kesehatan juga mempunyai peran dari Promotif, Preventif, Kuratif, hingga rehabilitatif untuk kesehatan masyarakat. Kita semua memiliki peran penting untuk memastikan generasi berikutnya dapat hidup sehat, berpendidikan tinggi, dan produktif. Oleh karena amanah besar itu, Menteri Kesehatan mentransformasi 6 pilar kesehatan.


6 Pilar Transformasi Kesehatan

  1. Transformasi Layanan Primer
  2. Transformasi Layanan Rujukan
  3. Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan
  4. Transformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan
  5. Transformasi SDM Kesehatan
  6. Transformasi Teknologi Kesehatan

Transformasi SDM Kesehatan

Tiga program unggulan utama transformasi SDM Kesehatan Indonesia adalah Penyediaan, Pendayagunaan, dan Peningkatan Mutu. Penyediaan tenaga kesehatan diantaranya adalah penambahan prodi spesialis 9 penyakit prioritas seperti anestesi, bedah, jantung, termasuk FK Universitas Swasta. Menyegerakan implementasi Academic Health System untuk memperbanyak wahana pendidikan kedokteran di Fasyankes. Kementerian Kesehatan juga akan memberikan 10.000 beasiswa hingga tahun 2024. Beasiswa ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. 

Program untuk pendayagunaan tenaga kesehatan adalah adanya kemudahan regulasi diaspora kesehatan WNI lulusan luar negeri agar cepat tercapaikan ketersediaan tenaga kesehatan, mendayagunakan WNA sebagai bagian dari investasi, pembiayaan pendidikan bagi tenaga kesehatan yang mengabdi di lokus rekomendasi Kemenkes, dan rekrutmen Calon Aparatur Sipil Negara (PNS/PPPK) pada institusi kesehatan seperti di Puskesmas, Rumah Sakit, Laboratorium Kesehatan, Laboratorium Kesehatan Masyarakat, sesuai dengan lokus rekomendasi Kementerian Kesehatan.

Mutu tenaga kesehatan juga akan ditingkatkan melalui pemberian beasiswa tenaga kesehatan untuk meningkatkan kompetensi spesialistik tenaga kesehatan. Pelatihan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan dan pemantapan kompetensi, semua pelatihan akan certified by Kemenkes yang nantinya Satuan Kredit Profesi (SKP) dapat dipantau di aplikasi. Akan dilaksanakan program rutin untuk transfer ilmu dan teknologi diaspora dengan tenaga kesehatan Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah. 

Perubahan Cara Kerja Kementerian Kesehatan

Kementerian bertranformasi pada tubuh internalnya demi melayani bangsa untuk mendapatkan kesehatan yang terbaik. Transformasi tersebut harus diinisiasi dan diinternalisasi oleh setiap pegawai Kementerian Kesehatan. Nilai transformasi tersebut akan merubah budaya kerja yang berorientasi kepada dampak, kerja yang efektif, dan serba digital. Semua pekerjaan berdasarkan 6 pilar yang akan menjadi KPI kelompok dan Individu, kedepannya Tukin atau Tunjangan Kinerja juga berdasarkan hasil kerja, bukan presensi semata, dan setiap inisiasi pegawai akan dipantau secara reguler.  Setiap pegawai harus cepat dalam bekerja secara kelompok, bukan hanya dalam kelompok tiap fungsi, tetapi juga lintas fungsi. Semua pegawai juga harus menanamkan nilai berAKHLAK dalam dirinya demi kepentingan masyarakat. Digitalisasi Kemenkes merupakan upaya untuk proses transparansi kinerja dan memberikan feed back terkait intervensi yang telah diberikan.

Kolaborasi Pemerintah dan Organisasi Profesi

Dalam bertransformasi, Kementerian Kesehatan tidak dapat berjalan sendiri. Transformasi membutuhkan dukungan berbagai pihak dengan berbagai sektor. Sektor Keuangan, Sektor Pendidikan, Sektor Tenaga Kesehatan, Pemerintah Daerah, dsb. Berkolaborasi dengan Organisasi Profesi bertujuan untuk mengupayakan pemenuhan SDM Nakes, mendayagunakan, dan meningkatkan mutu Nakes. 

Kolaborasi yang erat antara Rumah Sakit, Universitas, dan Organisasi Profesi dalam upaya percepatan produksi tenaga kesehatan, khususnya dokter dan dokter spesialis. Pembukaan Program Studi Kesehatan Baru (prioritas prodi langka) dalam rangka pemerataan produksi tenaga kesehatan. Kementerian Kesehatan akan mendukung penyederhanaan sistem dan regulasi dalam rangka percepatan pemenuhan, pendayagunaan, dan pemerataan tenaga kesehatan. Kementerian Kesehatan mengharapkan peran aktif Organisasi Profesi dalam pembinaan dan peningkatan mutu tenaga kesehatan. 

Diskusi

Menteri Kesehatan berkesempatan berdiskusi langsung dengan tenaga kesehatan di moderatori oleh Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan

1. Eka Mulyana. PB IDI: 

    • Seluruh Dokter mendukung penuh transformasi sistem kesehatan. 
    • Mendukung penuh residen/ tenaga kesehatan lain yang menempuh pendidikan dibayar/ mendapat tunjangan dari Kementerian Kesehatan, bukan membayar untuk pendidikan.
    • Kami mengusulkan tentang pajak alat kesehatan, bila alat kesehatan canggih yang diperlukan untuk diagnostik atau pengobatan masih berpajak impor tinggi, maka harga pelayanan kesehatan juga ikut tinggi. Saran kami alat kesehatan yang canggih dapat bebas pajak atau pajak ringan. 
    • Kami mendukung pelayanan primer diperbaiki infrastruktur, sarana dan prasarana serta SDM nya
    • Kami mendukung jika ada beasiswa untuk pendidikan dokter spesialis diperbanyak.
    • Kami mendukung Fakultas Kedokteran juga diperbanyak. Tetapi juga tenaga pendidiknya juga diperbanyak.
    • Telemedisin merupakan hal yang paling dibutuhkan untuk saat ini, sementara belum ada Undang-Undang terkait Telemedisin. Untuk itu perlu UU yang menaungi Telemedisin. 
    • Terkait Anggaran Pendidikan saran kami untuk ditambah.

Tanggapan Menteri Kesehatan:

  • Untuk gaji residen akan dibayar oleh Kementerian Kesehatan, namun bertahap sesuai dengan kondisi keuangan negara.
  • Pajak alat kesehatan, nanti saya akan buat transparan. Berapa harga asli alat kesehatan tersebut, kemudian berapa pajak impornya, dan kenapa harga alat tersebut menjadi mahal di Indonesia. Menurut saya tidak selalu pajak yang mahal, tetapi ada faktor lain. 
  • UU Telemedisin sedang kami kerjakan.
  • Anggaran Pendidikan sudah besar, nanti kami rapikan dahulu kemudian baru kami tambah
2. Harif Fadhilah, PPNI: 
    • Terima kasih atas penjelasan Bapak Menteri Kesehatan terkait transformasi kesehatan
    • Kami mohon penjelasan juga terkait transformasi tenaga kesehatan selain dokter, jadi kami dapat mensupport hal tersebut
    • Mengatasi terkait distribusi dokter di daerah, WHO telah ada kebijakan Mix Competencies. Mungkin hal tersebut dapat diadopsi oleh Kementerian Kesehatan.

Tanggapan Menteri Kesehatan:

  • Untuk tenaga kesehatan non dokter, saya sudah bilang ke Bu Ade (Dirjen Nakes). Saya mau untuk semua Puskesmas cepat dikejar pemenuhan 9 jenis nakes. Saya akan memperbanyak tenaga kesehatan non dokter untuk mengisi primary care karena jika primary care itu kuat, maka beban rumah sakit akan berkurang. 
  • Mengenai mix compentencies, kita juga lakukan. Contohnya USG, kita akan sebar 10.000-12.000 USG ke daerah, kompetensi dasarnya akan kita latih.  

 3. Emi Nurjasmi, IBI: 

    • Terima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan atas paparan yang komprehensif.
    • Konsep penguatan pelayanan primer itu sudah sangat tepat. Kita bicara ketersedian, aksesibilitas, acceptability dan quality. Untuk quality kita bidan perlu working environment yang dapat membina, membimbing, dan memonitor, serta ditingkatkan kapasitasnya. 
    • Telehealth kita sepakat sekali, sehingga kita semua bisa akses kedalam informasi ketersedian layanan kesehatan. Contohnya untuk rujukan dari bidan agar tidak shopping hospital untuk merujuk pasien.
    • Kita bangun interprofesional kolaborasi, semua profesi harus saling dukung dan saling menguatkan.

Tanggapan Menteri Kesehatan:

  • Kita akan digitalisasi pembinaan tenaga kesehatan. Saya berpesan kepada Bu Ade untuk peningkatan mutu tenaga kesehatan nanti menggunakan digitalisasi. Semua pelatihan certified oleh Kemenkes nantinya SKP (satuan kredit profesi) sudah digital dan tercatat langsung di Kemenkes. Jadi kita bisa track untuk pembinaan tenaga kesehatan.
  • Untuk Telehealth nanti kita akan perbaiki. Kita semua tahu bidan-bidan sampai pelosok daerah. Seperti kader-kader juga sampai pelosok, kita akan pikirkan bagaimana caranya Menteri Kesehatan dapat bertemu bidan-bidan dan kader-kader pelosok, dengan adanya teknologi pasti bisa.

 4. Prof Aryati, PATKLIN: 

    • Terima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan atas paparan yang luar biasa, semoga semua bisa tercapai
    • Bapak Menkes telah mengatakan terkait program screening. Saat ini sudah berjalan program screening seperti thalasemia, hipertiroid congenital, namun belum merata. Karena semua itu mencakup terkait pengadaan laboratorium hingga ke daerah. 
    • Pengembangan dan pemerataan jejaring laboratorium dan teknologi. Kita tahu selama ini sudah ada pemeriksaan TCM, dan laboratorium. Kita perlu pemetaan faskes dan SDMnya serta bagaimana sustaibility programnya.
    • Penyeragaman mutu kualitas perlu digalakkan. Pemerintah dapat bekerjasama dengan profesi.
    • Peningkatan labkesmas perlu didata bagaimana SDMnya, perlu supervisi.
    • PATKLIN mendukung transformasi digital kesehatan Kemenkes.
    • Kolaborasi aktif antar profesi dan Kemenkes perlu digalakkan lagi.  

Tanggapan Menteri Kesehatan:

  • Untuk laboratorium kebanyakan tidak bisa beli reagen karena harus impor. Tapi alatnya ada, saya lihat reagen bisa dibuat di Indonesia. Nanti kita beli dalam negeri aja. Khusus untuk reagen kita akan buat di dalam negeri.
  • Menteri Kesehatan meminta standar format harus diikuti oleh semua laboratorium

 5. Prof Elly, IAI: 

    • Mengenai genomic dan personalize medicine sangat didambakan kami dari dahulu. Selain pengobatan ada juga nutrigenomic, nutrisi apa yang bagus sesuai dengan genomic tersebut. Jadi kami IAI sangat mendukung program dari genomic tadi. Kami berharap bisa bersumbangsih terkait personalize medicine. Apoteker terkait personalize medicine sudah berkembang di beberapa negara. 
    • Kami sudah bertemu dengan bagian farmasi kementerian kesehatan Singapura, disana ada Carier Path bagi lulusan apoteker, ada apoteker advance practice dan apoteker spesialis yang secara global sekarang sedang mengarah kesana. Jadi izin pak Menkes, berdasarkan hasil benchmark kami, carier path apoteker di Singapura dibawah koordinasi dari Kementerian Kesehatan Singapura. Kami mohon dukungan untuk pengembangan kompetensi apoteker yang nanti akan mendukung kompetensi personalized medicince yang berbasis genomic.
    • Jika Bapak Menkes berkenan, kami mohon dapat hadir pada peluncuran Apoteker Spesialis.

Tanggapan Menteri Kesehatan:

  • Ibu Ade, untuk semua pertanyaan mohon di catat, nanti saya baca dan balas satu persatu.
  • Mudah-mudahan Indonesia dapat leading dalam genomic karena Indonesia mempunyai biodiversity yang banyak. Ini semua harus dilakukan dalam negeri, data harus disimpan di dalam negeri.
  • Saya sudah membeli lebih dari 20 alat genome yang disebar di  perguruan tinggi seluruh negeri. Tujuan saya agar genome squence bisa merata di seluruh negeri. Saya tahu ini bukan hanya akan menjadi personalize medicine tetapi juga personalize treatment. 
  • Saya akan dukung spesialis apoteker.
  • Obat itu kuratif, gizi dan makanan itu preventif. Saya lebih menyukai preventif.

 6. Bintang, Jaselindo: 

    • Kami melihat stem cell belum jelas regulasinya. Kami memohon Bapak Menkes agar segera membuat regulasi stem cell agar semua dapat diatur.
    • Kami mohon siapa yang akan nantinya bisa mengkontrol terkait stem cell. 
    • Bagaimana strategi pemerintah untuk fasilitasi stem cell?
    • Kami usul sesuai dengan stem cell.

Tanggapan Menteri Kesehatan:

  • Saya melihat sekarang obat-obatan sudah mulai bergeser, tadinya adalah berbasis kimia sekarang sudah berbasis biologi. 
  • Saya minta obat-obatan berbasis biosimilar agar dapat di produksi dalam negeri.
  • Saya juga akan rapikan terkait donor organ. 
Menteri Kesehatan akan rutin melakukan diskusi dengan organisasi profesi.

Kesimpulan

Semua organisasi profesi tenaga kesehatan mendukung adanya transformasi kesehatan yang dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin. Menteri Kesehatan juga akan mendukung berbagai upaya yang dilakukan profesi bekerjasama dengan Kemenkes untuk memajukan kompetensi tenaga kesehatan seperti Apoteker Spesialistik, semua pelatihan certified by Kementerian Kesehatan, dan semua regulasi terkait kesehatan yang semuanya bertujuan untuk peningkatan kesehatan masyarakat.

Referensi 

Untuk mengunduh presentasi Transformasi Kesehatan - Organisasi Profesi silahkan klik link.kemkes.go.id/materitranskesop



Mahar Santoso
Mahar Santoso Okupasi Terapis, Kesehatan Masyarakat, Protokol Menkes

Posting Komentar untuk "Diskusi Menteri Kesehatan dengan Tenaga Kesehatan Tentang Transformasi Kesehatan"