Rabu, 23 November 2011

Okupasi Terapi Pada Gangguan Belajar (Learning Disorders)

Sebelum membaca postingan ini, sebaiknya membaca postingan sebelumnya disini.

Anak-anak dan orang dewasa mungkin mempunyai kesulitan belajar. Okupasi Terapis biasanya bekerja dengan anak-anak dan orang dewasa yang mempunyai masalah pada motorik mendasar yang memberikan kontribusi untuk menyebabkan kesulitan akademis mereka. Mereka juga dapat  bekerja dengan anak-anak yang mempunyai masalah learning disorder yang juga mengalami kesulitan untuk mengatur diri mereka sendiri atau menyelesaikan tugas sehari-hari. Jika Anda menduga bahwa anak Anda memiliki kesulitan koordinasi atau organisasi, bawalah mereka ke seorang Okupasi Terapis. Okupasi Terapis berperan unik dalam pekerjaannya dengan orang yang mempunyai gangguan/kesulitan belajar. Mereka berkemampuan untuk bekerja secara holistik, praktis, dan kreatif.
Peran Okupasi Terapis  dalam kasus Learning Disorder :


  • Pada Area Sekolah :
    • 1. Mintalah pada guru/walikelas untuk meninjau aturan dan rutinitas anak secara individual sehingga jelas tentang perkiraan waktu istirahat, makan siang, olahraga, dll.
    • 2. Mengenalkan komputer sedini mungkin. Meskipun keyboarding mungkin awalnya sedikit sulit, tetapi anak Anda harus mahir, karena hal ini dapat mengurangi jumlah tulisan tangan yang diperlukan.
    • 3. Jika anak Anda mengalami kesulitan tulisan tangan, cobalah menyediakan kertas yang sesuai dengan kesulitannya. Misalnya, garis spasi yang luas untuk anak menulis yang besar (terlalu tinggi), dan menggunakan kertas bergaris untuk anak yang kesulitan menulis dalam satu garis.
    • 4. Mengatur anak memiliki waktu ekstra untuk menyelesaikan tugasnya seperti menyalin, menulis, menulis cerita dan berkarya seni. Jika kecepatan yang diinginkan, bersedialah menerima hasil kerjaan yang kurang bagus dari anak.
    • 5. Memberikan anak dengan metode berbeda dalam menyajikan informasi di sekolah. Misalnya, anak dapat menyajikan laporan secara lisan, gunakan gambar-gambar untuk menggambar ide-ide, merekam ujian atau cerita dengan tape recorder, atau mengetik laporan dikomputer.

  • Pada Area Rumah dan Masyarakat :
    • 1. Cobalah untuk membangun jadwal rutin anak untuk bersiap ke sekolah dan mengerjakan PR. Beberapa anak merasa terbantu untuk memiliki rutinitas pagi, atau perubahan jadwal tidur. Informasikan kegiatan-kegiatan rutin tersebut dengan gambar yang menunjukan peristiwa.
    • 2. Ajak anak Anda menggunakan kaos/pakaian yang mudah digunakan dan mudah untuk melepasnya. Seperti : Sweat pants, sweat shirts, legging, dan sepatu velcro. Lebih baik gunakan velcro daripada menggunakan tali atau kancing.
    • 3. Cobalah untuk memperkenalkan anak Anda dengan aktivitas/olahraga baru yang bersifat individual sebelum dikenalkan dengan kegiatan dengan kelompok. 
    • 4. Anak Anda mungkin akan lebih suka dan lebih baik untuk melakukan olahraga individu seperti renang, berlari, bersepeda, dan yang lainnya yang bukan olahraga tim/kelompok. Jika hal ini terjadi, cobalah untuk mendorong interaksi sosial melalui jenis kegiatan lain seperti bermain musik, drama, menyanyi.
Written by occupational therapist Cheryl Missiuna, Ph.D., O.T. (C), assistant professor at the School of Rehabilitation Science, McMaster University, Hamilton, Ontario. Diterjemahkan oleh Mahar Santoso, Amd.OT


Sensory Diet

Contoh sensory diet diolah dari berbagai sumber :


Sensory Diet

*Harus dikondisikan untuk tiap anak.

Sensory Diet ini untuk :
Dikembangkan oleh : Mahar Santoso, Amd. OT (Occupational Therapist)

Apa itu Sensory Diet ?
Sensory Diet adalah kumpulan aktivitas yang dijadwalkan dalam keseharian anak untuk membantu atensi, arousal, dan respon adaptif. Aktivitas-aktivitas ini dipilih untuk anak berdasarkan teori Sensory Integrasi. 
Aktivitas ini didesain untuk menghasilkan efek positif pada anak. Jika sewaktu-waktu anak menampakan reaksi negatif, aktivitas harus segera dihentikan. TIDAK ADA SATUPUN AKTIVITAS YANG HARUS DIPAKSAKAN KEPADA ANAK ANDA. Hanya lakukan aktivitas yang diberi tanda centang ()


PROPRIOCEPTIVE

_____ (1) Membawa tas yang berisi buku
_____ (2) Menggelindingkan bola dengan posisi anak rebahan dilantai
_____ (3) Mendorong tembok
_____ (4) Mendorong kursi
_____ (5) Mendorong gerobak, kursi, tempat mainan menuruni turunan
_____ (6) Aktvitas memanjat
_____ (7) Berguling diatas selimut/sprei
_____ (8) Lompat di trampoline
_____ (9) Jumping jack, lari di pasir atau di air
_____ (10) Jalan gerobak
_____ (11) Menempelkan dan melepas mainan di dinding
_____ (12) Menghapus papan tulis
_____ (13) Merayap menggunakan scooter/skateboard
_____ (14) Merayap dilantai atau dikarpet
_____ (15) Menekan benda dengan tangan diatas bahu
_____ (16) Memeluk boneka besar
_____ (17) Aktivitas melempar bola dengan perut menempel dilantai
_____ (18) Menggunakan weight vest (20 Menit)
_____ (19) Menata kembali meja-meja di ruangan
_____ (20) Tos-tosan
_____ (21) Letakkan tangan anak pada tangan anda dan tekan, dilakukan bergantian
_____ (22) Naik-turun tangga
_____ (23) Menabuh drum
_____ (24) Dribble bola
_____ (25) Mendorong bola ketembok

ORAL MOTOR

_____ (1) Mengunyah makanan yang renyah untuk meningkatkan atensi (Buah yang keras, sayuran, permen karet, dll)
_____ (2) Makanan dengan rasa yang asam
_____ (3) Meniup peluit, membuat balon (meniup balon kapas diatas kertas, membuat balon busa)
_____ (4) Mengunyah benda (contoh : Chew tubes)
_____ (5) Menghisap (Menyedot minuman)

TACTILE (SENTUHAN)

_____ (1) Bermain dikotak pasir, manik-manik, kacang, makaroni, dll
_____ (2) Bermain dengan benda yang bertekstur seperti spon, lem, jeli, busa, playdough, air
_____ (3) Brushing Protocol (Hubungi terapis untuk informasi lebih lanjut)

VESTIBULAR
• Hentikan langsung jika terjadi perubahan pada detak jantung dan nafas anak anda. 
_____ (1) Bermain ayunan
_____ (2) Aktivitas meloncat
_____ (3) Bermain lagu Kepala, pundak, lutut, kaki
_____ (4) Berguling
_____ (5) Bersepeda
_____ (6) Main skuter/skaterboard

ALLERTING

Aktivitas-aktivitas ini secara spesifik didesain untuk anak-anak yang mempunyai kesulitan dalam arousal. Konsultasikan kepada terapis sebelum menggunakan aktivitas ini untuk meyakinkan bahwa anak anda benar-benar dalam low arousal dan tidak pada fase down. Beberapa tanda dari kurangnya stimulasi adalah :
● Terlihat lemas
● Lemah postur
● Menurunnya perhatian
● Menurunnya kecepatan
● Menurunnya kemampuan untuk mengikuti instruksi
● Menguap
_____ (1) Mengusap wajah 
_____ (2) Menggunakan cahaya yang terang
_____ (3) Minum air dingin dari botol minuman 
_____ (4) Musik yang keras
_____ (5) Bermain ayunan yang iritmis (Ditunjukan oleh terapis)
_____ (6) Lari ditempat
_____ (7) Lompat ditempat
_____ (8) Jalan lutut



Share:

1 komentar:

  1. wa yo ngeneki le tak karepne, memfasilitasi konco2 neng blog..
    ndisik jane arep nggawe we, is raiso ngoberne..
    tingkatkan mass..

    BalasHapus